Pages

Jumat, 18 April 2014

Paskah Terindah di Beranda Rumah



Sejak tadi, Tum berbaring terlentang di tempat tidur.
“Bagaimana ini, kok, Tum susah betul dibangunkan, Mbak?”. Om menepuk-nepuk pundak Tum, menggoyang-goyang tangan dan kaki Tum; Tum tidak bangun. Om mencubit lengan Tum keras-keras; Tum tidak bangun. Lalu, ditempelkannya telinga kirinya ke dada Tum.
“Detak jantungnya oke! Mungkin Tum cuma kecapekan, Mbak!”
“Entahlah, Om, tadi, Tum pulang langsung masuk kamar, minta dibangunkan jam lima!” Dengan hati-hati, Om membuka mata Tum. Beberapa pembesuk mendekat, ingin ikut melihat. “Matanya juga normal!”
Mendengar penjelasan Om, istri Tum jadi agak tenang. Sementara itu, Tum mendengar apa yang sedang terjadi. Tum mendengar ketika istrinya tadi membuka pintu dan berusaha membangunkannya. Tapi, Tum tidak bisa menggerakkan tubuhnya, sedikitpun, meski sadar bahwa dirinya tidak sedang tidur. Tum ingin sekali berteriak “aku nggak bisa bergerak!” tetapi ia tidak bisa.
Pukul empat tadi, kesemutan merambat dari ujung kaki Tum. Perlahan-lahan, kakinya terasa hilang. “Lho, Ma, kakiku lenyap! Coba lihat kakiku apakah memang lenyap?” teriaknya dalam hati. “O, istriku tidak bisa mendengar. Bertahun-tahun menjadi pasangan hidup tidak menjamin yang satu mampu membaca hati dan pikiran yang lain.” Pikiran semacam itu membuatnya geli dalam hati, tapi sekonyong-konyong berubah jadi gelisah, sebab kesemutan itu tidak berhenti di pangkal paha, perlahan-lahan menjalar. Menjalar naik ke kemaluan, perut, dada, hingga sampai di leher. Kini, bahkan Tum merasa hanya tinggal punya kepala. Ia pun sangat ketakutan dan berusaha berteriak. Tapi, orang-orang itu tidak mendengar teriakan hatinya. “Tuhan, tolong, tolong! Bagaimana mungkin nanti kurayakan Paskah hanya dengan kepala saja, tanpa badan?” Mulutnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Tum jadi mengerti betapa ajaib mulut manusia, betapa berguna kata-kata. Kini, Tum kalut dalam ketidakberdayaannya.
“Sebaiknya, Tum dibawa ke rumah sakit, Bu!”
”Tapi, Dok, rumah sakit sangat jauh…nanti jam tujuh Paskah dimulai!”
“Lho, penting perayaan Paskah atau keselamatan Tum?”
Istri Tum bertambah galau. Ia telah berlatih mazmur selama sebulan. Baru kali itu, ia diberi kesempatan tampil di Gereja. Ia sangat bersemangat, sampai-sampai hafal seluruh baitnya. Ia terlanjur menulis banyak status di facebook tentang ditunjuknya ia sebagai pemazmur malam paskah tahun ini. Sementara itu, Tum tidak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali perasaan sangat takut. Ia seperti sedang berada di tempat yang gelapnya seribu kali gelap yang pernah ia alami. “Apa aku ini sudah mati?”
Setelah beberapa jam dirawat, Tum bisa membuka mata. Mula-mula, ia silau, melihat lampu yang tergantung di plafon rumah sakit. Heranlah ia mengamati sesuatu yang sepertinya pernah ia kenal, tetapi itu apa? Sesuatu yang bersinar, tergantung di bidang luas di atas kepalanya. Sekat-sekat yang ada di depan, kanan-kiri, lobang kotak-kotak, dan sesuatu yang transparan itu. Oh, bagusnya, di sana ada yang bisa terlihat dari sini. Benda-benda yang bergerak dan mengeluarkan suara, berbagai bentuk yang berwarna-warni. Tapi itu apa? Tum hanya bisa melihat, tak bisa mengerti, seolah dia hanyalah sepasang mata yang menyaksikan “sesuatu”. Istri dan anak-anak Tum menangis. Istrinya telah berkali-kali menciuminya, membisikkan sesuatu dengan bibir ditempelkan di telinga Tum: “Maafkan aku…jarang memperhatikanmu. Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, Tum! Aku sangat takut, jangan sampai kau meninggalkan kami, Pa…Sayang!”
Tetapi Tum belum bisa mengerti. Tum bahkan belum menyadari kehadiran istri dan anak-anaknya, yang sejak tadi berdoa Bapa Kami.
Setelah dua jam perawatan, Dokter merekomendasi agar Tum dipulangkan. Para tetangga telah menunggu. Sesampai di rumah, Tum dibawa ke kamarnya. Ia didudukkan, diajak berbicara, tetapi belum mengerti apa-apa. Suasana di rumah itu mencekam beberapa jam, hingga pada suatu ketika, Tum merasa ada sesuatu yang bergerak.
“Benda apakah ini? Sepertinya aku pernah tahu ini.” Ia berusaha mengingat-ingat. “Ini…?
 Ini…o, ini tangan. Ya, ini tangan…tangan siapa? Tangan ini bisa kugerak-gerakkan. Eh, ini tanganku, kan? O, iya…ini tanganku!” Ia merasakan kegembiraan yang luar biasa hanya karena merasa mempunyai sepasang tangan. Ia gerak-gerakkan tangan kanan dan kirinya dengan gembira. Ia begitu menikmatinya. Sepuluh menit ia melakukan hal itu, hingga tanpa sengaja, tangan kanannya menyentuh rambut. Rasanya enak ketika tangannya menyentuh rambutnya. Ia mengulangi dan mencoba menyentuh dengan lembut. “Hei, apakah ini? Sesuatu yang enak disentuh.”Tum mencoba mengingat-ingat. Alangkah menakjubkan bisa mengingat sesuatu. Setelah lima menit, ia bisa mengingat bahwa itu adalah rambutnya. “Aku punya dua tangan, dan rambut yang enak disentuh!” Tangan dan matanya pun mencari-cari apa yang ada di dekatnya, dan lama-lama ia bisa menemukan hidungnya sendiri, mulutnya, telinganya, badan, kaki, dan seluruh tubuhnya sendiri. Kegembiraanya tidak bisa dilukiskan, sebab begitu tiba-tiba, dari merasa tidak mempunyai apa-apa, ia menjadi memiliki banyak hal yang menakjubkan. Ketika tangannya bergerak-gerak di depan matanya sehingga menghalangi pandangan, ia pun jadi sadar bahwa ia bisa melihat karena dua benda itu. “Oh, ini, ini…mata saya.” Perlahan-lahan Tum menyadari keberadaan dirinya sendiri. Tum gembira. Lambat laun, ia menyadari kehadiran orang lain. “Ini istriku, ini, dan ini dua anakku, dan ada banyak tetangga mengelilingiku. Terimakasih” bisiknya lirih dalam hati.
Kesadarannya pulih; kenangan bermunculan satu-satu. Kini, betapa ia merasa telah menyia-nyiakan begitu banyak anugerah. “O, diriku, diriku. Kemana saja diriku selama ini? O, Tuhan…” O, ada air mengalir dari mata. Ia terkenang akan ketidaksetiannya kepada istri, anak-anak, dan orang-orang yang begitu mencintainya, yang sekarang sedang memeluknya erat-erat sambil menangis, “Sadar Pak, sadar!”
Lamat-lamat terdengar paduan suara: “Syukur kepadamu Tuhan, sumber segala rahmat, meski kami tanpa jasa, Kaujunjung dan Kauangkat. Dosa kami Kauampuni, Kauberi hidup Ilahi, kami jadi putera-Mu” Tum jadi ingat, ini adalah malam perayaan Paskah. Seharusnya istrinya telah tampil di Gereja sebagai pemazmur.
Tum bisa berdiri. Istrinya dan anak-anaknya terkejut, lalu buru-buru menopangnya. Tum berjalan dipapah istri dan kedua anaknya. Tummembuka laci lemari. Kemarin ia menyimpan kado kecil untuk istri dan anak-anaknya. Entah, apa isinya? Tum ingin bicara, tapi belum bisa kecuali di dalam hatinya, “Aku telah diberi banyak hal yang telah kusia-siakan: hidupku, dan orang-orang yang mencintaiku.”
Sebelum membuka kado kecil itu, istrinya berbisik di telinga Tum, “Keselamatanmu lebih penting daripada perayaan paskah, Sayang!” Tum mendengar. Ia menjawab dengan sebuah senyuman. Mulutnya diam, hatinya berbicara: “Aku tadi seperti telah mati, kini seperti dilahirkan kembali. Inilah Paskah terindah, di beranda rumah.”

Sumber :  Majalah Hidup, edisi Minggu 29 April 2011

Selasa, 24 Desember 2013

Selamat Natal 2013 dan Tahun Baru 2014

Seperti pada malam-malam sebelumnya, malam ini suasana Kampus STPP Malang masih sunyi senyap. Sebagian besar mahasiswa sedang berlibur di kampung halaman bersama dengan keluarga tercinta. Bagi teman-teman yang besok akan merayakan Natal bersama keluarga, saya bersama keluarga mengucapkan selamat Hari Raya Natal 2013 dan Tahun Baru 2014. Dan bagi yang tidak sempat berkumpul bersama keluarga, saya doakan tetap diberikan kesehatan dan pada perayaan Natal tahun depan bisa bersama-sama dengan keluarga tersayang. Aamiin.
Pada malam ini kucoba mengekspresikan suasana keheningan dalam sebuah cerita pendek. Cerita ini kupersembahkan bagi rekan-rekan Mahasiswa STPP Malang yang sedang berlibur dan yang akan merayakan Natal besok. Special kupersembahkan buat rekan-rekan Mahasiswa Kelas III B Jurusan Pertanian.


Diceritakan ada satu keluarga, Herman dan istrinya, Jose mereka memiliki sebuah toko yang menjual mainan anak, setelah hari mulai petang mereka mengunci toko tempat mereka bekerja dan bergegas ke rumah. Jam telah menunjukan pukul  11:00 malam.  Pada saat itu adalah malam natal di tahun 1949. Mereka merasa lelah namun mereka senang telah menjual hampir semua mainan anak di toko mereka, kecuali satu paket yang belum dijemput. Biasanya mereka akan terus membuka toko mereka sampai semuanya terjual dan dilunasi. “Kami tidak akan senang kalau mengetahui bahwa ada beberapa hadiah anak masih berada di rak pada saat sudah natal. Tetapi orang yang telah menempatkan uang dolar di atas paket itu tidak pernah kembali” kata sang ayah.
Di awal Natal di pagi hari keluarga Herman dan anak mereka Tom yang berumur dua belas tahun, membuka hadiahnya. Tapi perasaan Ayah Tom pada saat itu merasa ada sesuatu yang membosankan tentang Natal. Tom telah bertumbuh dewasa, sang ayah merindukan kegembiraan Tom sewaktu masih anak-anak di tahun-tahun terakhir. Begitu sarapan selesai Tom meninggalkan rumah untuk mengunjungi temannya di sebelah rumah.  Ayah Tom  bergumam, "Aku akan kembali tidur tak ada sesuatu yang tersisa lagi.." Jadi  Ibu Tom sendirian, merasa  dikecewakan.
Dan mulailah, suatu dorongan keanehan terjadi, tampaknya dorongan ini memberitahuku untuk pergi ke toko namun di luar sana hujan berjatuhan di atas trotoar, udara terasa sangat dingin.  Aku berkata kepada diriku sendiri untuk menolak dorongan untuk keluar rumah, tapi tidak berhasil. Bahkan, dorongan itu semakin kuat. Akhirnya, aku tidak bisa tahan lagi, dan kemudian berpakaian. Di luar, angin dingin menerpa tubuhku dan hujan es yang menyengat pipiku. Aku meraba-raba perlahan di jalan ke toko, aku tergelincir dan meluncur dalam perjalananku.
Di depan berdiri dua anak laki-laki, sekitar sembilan tahun, dan yang satunya sekitar enam tahun. "Lihat, aku sudah katakan bahwa dia akan datang!" anak yang lebih tua mengatakan penuh sukacita namun pria yang lebih muda itu terlihat mencucurkan air mata, tetapi ketika dia melihat aku, isak tangisnyanya berhenti. "Apa yang kalian lakukan di sini?" kami bersama, bergegas ke toko. "Kalian seharusnya berada di rumah pada hari seperti ini!" Mereka berpakaian sangat buruk. Mereka tidak punya topi atau sarung tangan, dan sepatu mereka hampir tidak bisa digunakan lagi . Aku mengusap tangan mereka yang dingin, dan membawa mereka dekat dengan pemanas untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Kami sudah menunggumu," jawab anak yang lebih tua. " Adikku Jimmy tidak mendapatkan permainan Natal." Ia menyentuh pundak Jimmy. "Kami ingin membeli sepatu roda. Itulah yang dia inginkan kami memiliki uang  tiga dolar.," Katanya, menarik uang koin dari sakunya. Aku melihat uang tersebut dan memandang wajah mereka. Dan pandanganku melihat ke sekeliling toko. "Maafkan aku," kataku, "tapi kita tidak punya lagi"  Tiba-tiba mataku melihat ke rak mainan ada sebuah paket disana. "Tunggu sebentar," . Aku berjalan, mengambil paket tersebut, membukanya dan, ajaib,! ada sepasang sepatu!  Kemudian aku menyerahkannya kepada Jimmy . “Tuhan, semoga ukuran sepatu itu cocok untuk mereka”. Dan keajaibanpun terjadi pada hari itu.

Anak laki-laki yang lebih tua memberikan uang dolar kepadaku. "Tidak," kataku, Aku ingin kalian untuk memiliki sepatu, dan aku ingin kalian menggunakan uang kalian untuk mendapatkan beberapa sarung tangan." Kedua anak tersebut merasa senang, terlihat sukacita di mata mereka ketika mereka mengerti bahwa aku memberikan sepatu roda untuk mereka.  Ini adalah suatu berkat yang murni suatu sukacita yang indah yang aku peroleh untuk dibagikan kepada kedua anak muda ini.
Kami berjalan bersama-sama keluar dari Toko, dan ketika aku mengunci pintu, aku berpaling kepada anak yang lebih tua dan berkata, "Bagaimana kau tahu aku akan datang?" Aku tidak siap untuk jawabannya. Tatapannya mantap, dan dia menjawab dengan lembut. "Aku meminta Yesus untuk mengirimkanmu."
Perasaan lega terasa dalam dada, aku tidak merasa dingin lagi.  Allah telah merencanakan semuanya ini, kami akhirnya melambaikan tangan tanda berpisah aku kembali ke rumah untuk natal yang indah.


“Seorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” Ams. 15:23

Link : Baitonline



Minggu, 15 Desember 2013

Liburan Akhir Tahun 2013

Tanpa terasa dengan berbagai kesibukan selama berada di Kampus, akhirnya tiba juga saatnya liburan akhir tahun. Sebuah moment yang selalu ditunggu-tunggu oleh semua orang, khususnya Mahasiswa STPP Malang. big grin
Liburan kali ini masih seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Semua mahasiswa kembali ke kampung halaman untuk berlibur bersama dengan keluarga yang sudah lama ditinggalkan. (untung Admin gak, happy). Ada yang pulang ke NTT, Maluku, Kep. Aru, Jawa, karena memang mahasiswa STPP berasal dari sana. happy. Namun, masih ada juga yang tidak pulang dan tetap tinggal di asrama atau cukup hanya dengan berlibur bersama teman-teman di daerah Jawa (Surabaya, Jakarta, dll)
Jadwal liburan kali ini mulai tanggal 16 Desember 2013 sampai dengan 05 Januari 2014. Wow.....lumayan lama untuk bisa istrahat bersama keluarga dan melepaskan semua rutinitas perkuliahan. thumbs up
Berhubung liburan kali ini sekalian untuk merayakan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014, maka Admin mengucapkan kepada semua teman-teman yang sudah pulang : SELAMAT NATAL 2013 dan TAHUN BARU 2014. Dan bagi yang gak sempat pulang ke kampung halaman, saya hanya ucapkan SELAMAT BERLIBUR. Termasuk Admin sendiri yang hanya tinggal di Kampus bersama yang lainnya. sad
Sampai jumpa tahun depan. (AF)

Kamis, 12 Desember 2013

Field Trip Ke Kota Batu

Pada hari ini Kamis tanggal 12 Desember 2013, teman-teman mahasiswa STPP Malang dari kelas IIIB dan IIIA Jurusan Penyuluhan Pertanian kembali mengikuti kegiatan Field Trip terkait mata kuliah yang sudah dipelajari. Field trip kali ini dilaksanakan di daerah Batu dengan mengunjugi studio Batu TV dilanjutkan dengan kunjugan ke lokasi kebun Apel milik petani di desa Sumber Gondo, Batu.

1. Kunjungan ke Batu TV
Kunjungan ke Batu TV dilaksanakan terkait mata kuliah Media Penyuluhan Pertanian II, dimana mahasiswa diajak untuk melihat langsung proses pengambilan gambar/video dan editting. Di Studio Batu TV juga mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengikuti acara Live Streaming berupa wawancara yang diikuti salah seorang mahasiswa atas nama Arif Munandar Karsidin dan Bapak Ir. Dwi Purnomo, MM selaku Dosen pembimbing.
Usai wawancara dilanjutkan dengan dialog yang dipandu langsung oleh Pembawa Acara. Mahasiswa yang mendapatkan kesempatan langsung untuk berbicara diwakili oleh Ibu I Gusti Ayu Putri Adhi (Ayu) dan Lusius Bala (Evon).
Berhubung dalam studio agak susah untuk mengambil gambar/foto, karena ketatnya peraturan pihak manajemen, sehingga banyak event-event yang tidak bisa diekspose dan ditampilkan disini.
Berikut beberapa foto yang sempat diabadikan di Studio Batu TV :



2. Kunjungan ke Kebun Apel
Usai kunjungan di Studio Batu TV, perjalanan dilanjutkan ke Kebun Apel yang terletak di Desa Sumber Gondo, Batu. Walaupun dalam kondisi hujan, para mahasiswa tetap bersemangat dan antusias (maklum nanti dapat apel gratis, hahaha......).



 

Blogger news

Blogroll

About