Pages

Kamis, 25 Desember 2014

Selamat Hari Natal 2014 dan Tahun Baru 2015 - Kedamaian Dunia

Selama ini, Aku tak mempercayai adanya keajaiban. Walaupun Aku sering melihat dan mendengar banyak fakta tentang keajaiban. Tapi Aku tak pernah percaya akan itu. Sampai akhirnya, ada hal yang membuatku sangat percaya akan adanya keajaiban.
“Dhira! Kamu harus teruskan perjuangan Ayah… hanya kamu yang diwarisi aliran darah itu! Kamu harus selamatkan Dunia kita!” ungkap Ayah. Saat itu, Dunia yang selama ini kutempati sudah sangat hancur. Tidak banyak yang dapat merubah keadaan ini. Entah sejak kapan Dunia kami dipenuhi dengan monster-monster menjijikkan dalam bentuk naga raksasa. Mereka memperbudak seluruh manusia yang ada di Dunia ini. Sudah banyak nyawa yang hilang di Dunia ini. Dan konon, yang bisa memusnahkan monster naga itu hanyalah Pedang Api.
“Tapi, Yah… kenapa Aku? Aku seorang perempuan dan Aku tak yakin dapat melakukannya!” tolakku.
“Sayang… hanya kamu yang bisa. Apa kamu tidak melihat banyak yang sudah kehilangan nyawa? Bahkan, Anak kecil yang tak bersalah pun ikut menjadi korban. Sekali lagi, Ayah mohon… hari ini adalah hari terakhir kita untuk selamatkan Dunia!” ujar Ayah lagi.
Hatiku mulai luluh dengan perkataan Ayah. Sebenarnya, Aku sangat tak tega melihat banyak pertumpahan darah. Terlebih ketika Ibu dan saudara laki-lakiku terbunuh oleh naga-naga yang buruk itu.
Perlahan, air mataku menetes membasahi pipiku. Aku membulatkan tekad hatiku untuk menyelamatkan Dunia, memusnahkan naga-naga yang buruk rupa dan menjijikkan itu, monster yang telah mengurangi kelengkapanku.
“Baik, Ayah. Aku berjanji, akan menyelamatkan Dunia ini!” tekadku. Aku melihat Ayah senyuman di wajahnya, Aku membalas senyum itu dengan sangat manis dan tulus.
Saat itu pula, Aku dan Ayahku beranjak menuju sebuah tempat yang tak pernah dimasuki siapa pun. Di sana, terlihat sebuah pedang yang memancarkan api panas yang membara. Semua orang tak dapat mengambil pedang itu, karena diselimuti api abadi yang tak pernah padam. Tanganku mengambil pedang itu, tak kurasakan panas sedikit pun walaupun api abadi itu terus memancar, menyemburkan rasa panas yang perih.
Sekali lagi, Ayah tersenyum dan menatapku. Percaya, itulah yang ku dapat dari tatapan Ayah. Kaki kecilku kukuatkan untuk melangkah, tanganku kueratkan memegang pedang itu, hatiku kutekadkan untuk menyelamatkan Dunia. Satu yang akan kuhadapi, yaitu menghadapi ratusan naga buruk yang telah merusak Dunia.
“Dhira… jika kamu ingin semua ini cepat berakhir, kamu harus membunuh sang raja naga! Dialah sumber dari semua naga itu!” ingat Ayah.
“Baik Ayah, Aku akan berusaha!” ujarku. Semangatku semakin berkobar. Pedang yang selama ini ada ditanganku terus memancarkan sinar merah dari apinya.
Aku terus berlari, meninggalkan Ayah. Mencari sang raja naga dan akan membunuhnya.
Sudah hampir 5 hari Aku berlari, tak ada lelah yang kurasa. Mungkin itu suatu keajaiban. Saat itu, keajaiban suadh tak dapat kuragukan lagi. Sampai akhirnya, ku lihat Dunia bagai neraka. Raja naga terlihat jelas di depan mataku. Selain naga buruk itu yang ku lihat, banyak sekali manusia yang menderita akibat naga buruk itu. Semua manusia di sana diperbudak olehnya, banyak yang di siksa olehnya. Mataku sudah tak tahan lagi melihat semua penderitaan itu, rasanya api di hatiku sudah mulai terbakar. Sudah tak ada lagi rasa takut di hati ini, keajaiban itu, telah menambah kekuatan pada hatiku.
Pedang Api ini, terlihat mulai memancarkan banyak api ke arah raja naga buruk itu. Namun, yang ku lihat hanya senyum licik dari mulut lebar naga yang sangat kubenci.
“Ha… ha… ha… apa yang kamu lakukan anak kecil?!” naga itu membuka mulutnya yang lebar, matanya terlihat begitu menyeramkan, namun tak dapat membuatku takut.
“Apa? Apa yang kulakukan? Lihat saja nanti! Akan kumusnahkan kau naga buruk rupa!” seruku. Cahaya mataku seakan memancarkan kobaran api semangat yang terus menguatkanku.
Aku memejamkan mataku, yakin akan ada keajaiban yang datang. Kuarahkan pedangku ke arah naga buruk rupa itu, kukuatkan hatiku dan terdengarlah suara ledakan yang sangat dahsyat. Sesaat setelah ledakan itu, Aku masih belum membuka mataku. Terasa badanku merasakan panas api yang sangat perih. Namun itu hanya sesaat, api itu tiba-tiba padam dan berubah menjadi angin sejuk yang damai.
Perlahan ku buka kelopak mataku, ku lihat Dunia telah kembali kini. Angin sejuk itu telah mengembalikan ketenangan di Dunia. Walaupun nyawa yang hilang itu tak dapat kembali, tapi ku lihat banyak senyum dan pelukan yang ada di depan mataku. Semua menjadi damai. Setelah cukup lama Aku menyaksikan kembalinya kedamaian dunia ini, Aku teringat Ayah. Aku berlari sekuat tenaga, untuk menghampiri Ayah yang telah menguatkan tekadku.
“Ayah!!!” teriakku keras ketika melihat tubuh Ayahku terbaring lemah tak bernyawa.
“Ayah… bangun Yah! Aku sudah berhasil Yah! Naga-naga itu telah musnah sekarang! Ayah, bangun!!!” teriakku keras. Aku tak dapat menahan air mataku. Air mata itu terus mengalir, membasahi pipiku. Cukup, Aku kehilangan orang yang kucintai. Tapi tolong, jangan ambil kedamaian dunia ini lagi! Aku membatin. Perlahan, Aku menghapus air mataku. Aku sadar, tak ada yang abadi di Dunia ini. Aku pun mengikhlaskan Ayah, keluarga dan sahabatku yang telah pergi. Sekarang, Aku berjanji, akan terus menjaga kedamaian dunia ini.


Bagi sahabat-sahabat terbaikku yang tergabung dalam keluarga besar mahasiswa STPP Malang yang pada tahun ini merayakan Natal, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Natal 2014 dan Tahun Baru 2015. Semoga persaudaraan kita selalu dihiasi dengan kedamaian. (Muliadin)

Link : http://goo.gl/eZVYhS

Jumat, 02 Mei 2014

Pendaftaran Mahasiswa Baru STPP Malang TA. 2014/2015

Dalam upaya mendukung kebijakan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan peran penyuluh pertanian dalam mendukung empat sukses pembangunan pertanian, maka peningkatan kompetensi mereka mutlak dilakukan. Penyuluh Pertanian perlu dikembangkan kemampuannya dari Penyuluh Pertanian terampil menjadi Penyuluh Pertanian ahli. Penyuluh Pertanian Ahli disyaratkan memiliki ijazah minimal D-IV.
Untuk dapat menghasilkan lulusan STPP dimaksud, penyelenggaraan pendidikan di STPP Malang didukung dengan kurikulum, sistem dan metoda pembelajaran, sarana pembelajaran, tenaga pengajar yang professional dan ketersediaan danayang memadai. Selain unsur–unsur tersebut, mahasiswa juga sangat menentukan keberhasilan pendidikan di STPP. Dengan demikian proses penerimaan mahasiswa baru program Diploma IV (D-IV) STPP untuk Tahun Akademik 2014/2015 lebih menekankan terhadap mereka yang memiliki potensi, sesuai kebutuhan pembangunan pertanian dan memenuhi persyaratan.
Pada Tahun Ajaran baru 2014/2015, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang membuat gebrakan baru dengan dibukanya pendaftaran mahasiswa baru dari umum (selain CPNS/PNS). Ini merupakan sebuah kabar gembira bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan khususnya di bidang Penyuluhan Pertanian dan Peternakan. Masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, terdapat 2 (dua) jurusan yang menjadi Program Studi di STPP Malang yaitu Jurusan Penyuluhan Pertanian dan Penyuluhan Peternakan.
Bagi yang ingin mengetahui Informasi jelas tentang Penerimaan Mahasiswa Baru tersebut, dapat mengunjungi Website STPP Malang
Pedoman Pendaftaran beserta Formulir Pendaftaran MABA STPP Malang TA. 2014/2015 dapat Anda download DISINI. (by. MF)

Jumat, 18 April 2014

Paskah Terindah di Beranda Rumah



Sejak tadi, Tum berbaring terlentang di tempat tidur.
“Bagaimana ini, kok, Tum susah betul dibangunkan, Mbak?”. Om menepuk-nepuk pundak Tum, menggoyang-goyang tangan dan kaki Tum; Tum tidak bangun. Om mencubit lengan Tum keras-keras; Tum tidak bangun. Lalu, ditempelkannya telinga kirinya ke dada Tum.
“Detak jantungnya oke! Mungkin Tum cuma kecapekan, Mbak!”
“Entahlah, Om, tadi, Tum pulang langsung masuk kamar, minta dibangunkan jam lima!” Dengan hati-hati, Om membuka mata Tum. Beberapa pembesuk mendekat, ingin ikut melihat. “Matanya juga normal!”
Mendengar penjelasan Om, istri Tum jadi agak tenang. Sementara itu, Tum mendengar apa yang sedang terjadi. Tum mendengar ketika istrinya tadi membuka pintu dan berusaha membangunkannya. Tapi, Tum tidak bisa menggerakkan tubuhnya, sedikitpun, meski sadar bahwa dirinya tidak sedang tidur. Tum ingin sekali berteriak “aku nggak bisa bergerak!” tetapi ia tidak bisa.
Pukul empat tadi, kesemutan merambat dari ujung kaki Tum. Perlahan-lahan, kakinya terasa hilang. “Lho, Ma, kakiku lenyap! Coba lihat kakiku apakah memang lenyap?” teriaknya dalam hati. “O, istriku tidak bisa mendengar. Bertahun-tahun menjadi pasangan hidup tidak menjamin yang satu mampu membaca hati dan pikiran yang lain.” Pikiran semacam itu membuatnya geli dalam hati, tapi sekonyong-konyong berubah jadi gelisah, sebab kesemutan itu tidak berhenti di pangkal paha, perlahan-lahan menjalar. Menjalar naik ke kemaluan, perut, dada, hingga sampai di leher. Kini, bahkan Tum merasa hanya tinggal punya kepala. Ia pun sangat ketakutan dan berusaha berteriak. Tapi, orang-orang itu tidak mendengar teriakan hatinya. “Tuhan, tolong, tolong! Bagaimana mungkin nanti kurayakan Paskah hanya dengan kepala saja, tanpa badan?” Mulutnya tidak bisa bergerak sedikit pun. Tum jadi mengerti betapa ajaib mulut manusia, betapa berguna kata-kata. Kini, Tum kalut dalam ketidakberdayaannya.
“Sebaiknya, Tum dibawa ke rumah sakit, Bu!”
”Tapi, Dok, rumah sakit sangat jauh…nanti jam tujuh Paskah dimulai!”
“Lho, penting perayaan Paskah atau keselamatan Tum?”
Istri Tum bertambah galau. Ia telah berlatih mazmur selama sebulan. Baru kali itu, ia diberi kesempatan tampil di Gereja. Ia sangat bersemangat, sampai-sampai hafal seluruh baitnya. Ia terlanjur menulis banyak status di facebook tentang ditunjuknya ia sebagai pemazmur malam paskah tahun ini. Sementara itu, Tum tidak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali perasaan sangat takut. Ia seperti sedang berada di tempat yang gelapnya seribu kali gelap yang pernah ia alami. “Apa aku ini sudah mati?”
Setelah beberapa jam dirawat, Tum bisa membuka mata. Mula-mula, ia silau, melihat lampu yang tergantung di plafon rumah sakit. Heranlah ia mengamati sesuatu yang sepertinya pernah ia kenal, tetapi itu apa? Sesuatu yang bersinar, tergantung di bidang luas di atas kepalanya. Sekat-sekat yang ada di depan, kanan-kiri, lobang kotak-kotak, dan sesuatu yang transparan itu. Oh, bagusnya, di sana ada yang bisa terlihat dari sini. Benda-benda yang bergerak dan mengeluarkan suara, berbagai bentuk yang berwarna-warni. Tapi itu apa? Tum hanya bisa melihat, tak bisa mengerti, seolah dia hanyalah sepasang mata yang menyaksikan “sesuatu”. Istri dan anak-anak Tum menangis. Istrinya telah berkali-kali menciuminya, membisikkan sesuatu dengan bibir ditempelkan di telinga Tum: “Maafkan aku…jarang memperhatikanmu. Sesungguhnya aku sangat mencintaimu, Tum! Aku sangat takut, jangan sampai kau meninggalkan kami, Pa…Sayang!”
Tetapi Tum belum bisa mengerti. Tum bahkan belum menyadari kehadiran istri dan anak-anaknya, yang sejak tadi berdoa Bapa Kami.
Setelah dua jam perawatan, Dokter merekomendasi agar Tum dipulangkan. Para tetangga telah menunggu. Sesampai di rumah, Tum dibawa ke kamarnya. Ia didudukkan, diajak berbicara, tetapi belum mengerti apa-apa. Suasana di rumah itu mencekam beberapa jam, hingga pada suatu ketika, Tum merasa ada sesuatu yang bergerak.
“Benda apakah ini? Sepertinya aku pernah tahu ini.” Ia berusaha mengingat-ingat. “Ini…?
 Ini…o, ini tangan. Ya, ini tangan…tangan siapa? Tangan ini bisa kugerak-gerakkan. Eh, ini tanganku, kan? O, iya…ini tanganku!” Ia merasakan kegembiraan yang luar biasa hanya karena merasa mempunyai sepasang tangan. Ia gerak-gerakkan tangan kanan dan kirinya dengan gembira. Ia begitu menikmatinya. Sepuluh menit ia melakukan hal itu, hingga tanpa sengaja, tangan kanannya menyentuh rambut. Rasanya enak ketika tangannya menyentuh rambutnya. Ia mengulangi dan mencoba menyentuh dengan lembut. “Hei, apakah ini? Sesuatu yang enak disentuh.”Tum mencoba mengingat-ingat. Alangkah menakjubkan bisa mengingat sesuatu. Setelah lima menit, ia bisa mengingat bahwa itu adalah rambutnya. “Aku punya dua tangan, dan rambut yang enak disentuh!” Tangan dan matanya pun mencari-cari apa yang ada di dekatnya, dan lama-lama ia bisa menemukan hidungnya sendiri, mulutnya, telinganya, badan, kaki, dan seluruh tubuhnya sendiri. Kegembiraanya tidak bisa dilukiskan, sebab begitu tiba-tiba, dari merasa tidak mempunyai apa-apa, ia menjadi memiliki banyak hal yang menakjubkan. Ketika tangannya bergerak-gerak di depan matanya sehingga menghalangi pandangan, ia pun jadi sadar bahwa ia bisa melihat karena dua benda itu. “Oh, ini, ini…mata saya.” Perlahan-lahan Tum menyadari keberadaan dirinya sendiri. Tum gembira. Lambat laun, ia menyadari kehadiran orang lain. “Ini istriku, ini, dan ini dua anakku, dan ada banyak tetangga mengelilingiku. Terimakasih” bisiknya lirih dalam hati.
Kesadarannya pulih; kenangan bermunculan satu-satu. Kini, betapa ia merasa telah menyia-nyiakan begitu banyak anugerah. “O, diriku, diriku. Kemana saja diriku selama ini? O, Tuhan…” O, ada air mengalir dari mata. Ia terkenang akan ketidaksetiannya kepada istri, anak-anak, dan orang-orang yang begitu mencintainya, yang sekarang sedang memeluknya erat-erat sambil menangis, “Sadar Pak, sadar!”
Lamat-lamat terdengar paduan suara: “Syukur kepadamu Tuhan, sumber segala rahmat, meski kami tanpa jasa, Kaujunjung dan Kauangkat. Dosa kami Kauampuni, Kauberi hidup Ilahi, kami jadi putera-Mu” Tum jadi ingat, ini adalah malam perayaan Paskah. Seharusnya istrinya telah tampil di Gereja sebagai pemazmur.
Tum bisa berdiri. Istrinya dan anak-anaknya terkejut, lalu buru-buru menopangnya. Tum berjalan dipapah istri dan kedua anaknya. Tummembuka laci lemari. Kemarin ia menyimpan kado kecil untuk istri dan anak-anaknya. Entah, apa isinya? Tum ingin bicara, tapi belum bisa kecuali di dalam hatinya, “Aku telah diberi banyak hal yang telah kusia-siakan: hidupku, dan orang-orang yang mencintaiku.”
Sebelum membuka kado kecil itu, istrinya berbisik di telinga Tum, “Keselamatanmu lebih penting daripada perayaan paskah, Sayang!” Tum mendengar. Ia menjawab dengan sebuah senyuman. Mulutnya diam, hatinya berbicara: “Aku tadi seperti telah mati, kini seperti dilahirkan kembali. Inilah Paskah terindah, di beranda rumah.”

Sumber :  Majalah Hidup, edisi Minggu 29 April 2011

 

Blogger news

Blogroll

About